Monday, 15 May 2017

A Tale to Tell (part 3)

Haiiii again. Wah, sudah cukup lama yah aku tidak menulis lagi disini., Hmmm gimana yah bilangnya. Sibuk sih bukan, males mungkin ya utk buka karena keinginan nulisnya kadang ada kagak ga.. Hahaha

Anyway, a story is a story and this is mine... And I hope to keep writing it despite being lazy mwahahaha


10 weeks pregnant



So here goes, petualangan ku setelah dinyatakan positif hamil dan melewati berbagai rintangan seperti: bahaya BO dan bahaya janin tidak berdetak. 

Ya, banyak sekali bahaya yang harus diperhitungkan. Begitu TP positif, tidak serta merta semua akan menjadi sesuai seperti yang diinginkan. 

Sesi pertama yang akan dialami setelah TP positif adalah pemeriksaan pertama. Pertama kali aku datang ke dokter kandungan di Siloam, right after checking again for the second time bahwa TP nya positif. Di dokter itu, aku di cek, USG biasa., Dilihat, apakah benar ada kantung janin dan apakah hamil benar / tidak. 

You know what, it wasn't easy. Dokter tidak menemukan kantong janin dan sampai bertanya "Benar bu di cek TP nya positif?"

"Benar dok, orang saya sampe cek 2 kali, waktu siang kemarin dan tadi pagi sebelum ke dokter.."

Dan ditelusuri lagi sedikit demi sedikit. Sambil dalam hati aku berdoa, plis plis kalau memang aku diperbolehkan hamil. Jadilah kepadaku menurut kehendakMu..

Dan there it is, kantung janin pertanda cikal bakal kehamilan. YES! Oh yesss I'm really pregnant! Hahahhaa. Dokter pun mendesah lega juga. Thank God yaa.. 

Sehabis itu, krn keputihan, aku pun ditindak untuk mulai mengatasi keputihan nya krn guateeel banget. Rada aneh sih obrol sama dokternya krn posisi dy d V dan aku diatas. Akhirnya aku pun mengikuti saran suami utk pilih dokter yg perempuan, itung2 supaya suami lebih nyaman & perempuan tentunya pernah merasakan hal yg sama, jadi bisa lebih banyak nanya. 

Selesai di cek, lumayan jg loh. Semua total 1jt an, walaupun ada tindakan, tp kaget juga. Tidak terbayang setiap bulan harus cek (yg mana waktu itu TM1 harus cek 2 minggu sekali), bisa bredel dompet....

Akhirnya aku dan suami mulai mencari2 referensi dokter kandungan yg bagus sambil sesekali sharing cerita bahwa aku hamil. Ah senangnya tidak terkira.. Sayang aku waktu itu kasih tahu ke papa via whatsapp (mami udah tahu jadi aku minta supaya diem2 dulu aja).. Jadi tidak ketahuan raut muka dy pas tau aku hamil gmn.. hahahhaa

Oh well, blame it on the excitement, I guess...

Selesai beberapa minggu awal, thanks to my curiousity, I found out about BO dan hamil anggur. Ternyata banyak sekali hal-hal yg harus diperhatikan saat TM1 dan benar-benar bahaya sekali apapun yg kita lakukan krn bayi bs tidak develop, keguguran krn kecapean, tidak ada detak jantung, dll... Pokoknya kesimpulanku satu: TM1 itu minggu2 yang penuh debar jantung. Rasanya semua serba salah. Dan semua harus hati-hati. Bayangkan setiap minggu ketar-ketir takut janin kenapa-kenapa.. gee, thanks Google.. Knowing too much is never a good thing when you're pregnant.. aku pun bru menyadari itu akhir-akhir ini.

Next thing I knew, aku jalan ke St. Carolus hari Minggu dan minta dokter cek. Waktu itu aku inget antara umur kehamilan 7 - 8 minggu ya kalau ga salah.. Akhirnya ke dokter sama mami.

Keinget waktu itu dokternya cowok (lagi) dan dikasih informasi mengenai BO & hamil anggur dll. Dokter melihat kantung janin aku, mendiagnosis kalau aku tidaklah hamir anggur. Syukurlaah.. Pas di check, melalui USG transvaginal, dimana dimasukkan via V utk lebih jelas. 
Cek cek cek 
tik tok tik tok

Dokter terus menyusuri kandungan aku.. Dy masih diam dan aku pun diam.. Sampai aku tanya
Me: "Gimana dok?"
Dr: "Yah.. Ini sih belum keliatan yah.. HPHT nya kapan ya?"
Me: "Seinget saya sih tanggal 20 an akhir Desember.."
Dr: *masih menyusuri perut* "...Yah disini sih belum terlihat ya.."

Mami pun mulai tidak berani melihat. Aku mulai berkaca-kaca dan menahan tangis sambil berdoa dalam hati. "Ya Tuhan, kuatkanlah aku.. Anakku, tolong perlihatkan kamu..", batin ku.

Sampai aku pelototin bareng sama dokter dengan kondisi V lagi diobrak abrik sama dokter *rasanya benar-benar ga nyaman*

Dr: "Sepertinya sih belum yah.."
Me: "Maksudnya gimana dok?"
Dr: "Yah, seperti yang saya bilang tadi, kalau BO itu tidak ada jaringan di kandungan, nih kita lihat ya dr sini.."
Dokter pun mulai menyusuri dr ujung kiri ke kanan

Saat di kanan ujung, dokter pun terdiam. Saya pun ikut terdiam, mami pun datang lagi 
Dr: "Tunggu dulu.. Nah, ini nih, ini jaringannya.."
Me: "bdchfwgefihewlfknwioeyfrwohvicknvfpqi!!!!!" 

Tidak tahu apa yang kuucapkan saat itu, berapa x desahan lega yg kuutarakan, dan mami yg bilang hampir saja jantungan krn dy emang ga pernah tau arti BO (jaman dulu belum banyak USG spt sekarang)

Me: "Yaampun dok! Saya udah sampe takut, kaget, ga jelas dah gimana..."
Dr: "Iyah bu, emang ini sepertinya meleset dr HPHT ya.. Semustinya ibu sudah lebih dr 8 minggu, tp melihat kondisi janin, sepertinya beda ini.. Tapi bener ini, ini dy udah ketemu. Tp belum bisa lihat detak jantung nya ya krn belum bisa.."

Aku pun melihat lebih jelas titik kecil di kantong janin yg terlihat kosong itu. Aku melihat dg jelas dy berdetak-detak seperti kecebong di air dangkal. Aku bilang ke dokter aku bisa melihat dy seperti berdetak-detak gt, dan dokter pun bilang sbg ibu sudah bisa melihat, berarti bagus. 

Ahhh, hidup itu memang penuh roller coaster. Pulang dr dokter itu, aku sudah bisa melihat masa depan cerah penuh petualangan bernama kehamilan. Dan itu cuma satu dari banyak hal yg kuimpikan.

Next adalah check up dengan SpoG yg tepat. Aku memilih Dr. Christina di St. Carolus atas referensi cici ipar seorang teman yg sudah 2x di dokter itu dan punya 2 anak laki-laki yg sehat. Dokter itu jg pro normal, jadi kutetapkan memakai Dr. itu. 

Awal datang, kesan yg terlihat adalah betapa cantiknya dokter itu, ramah juga. Dasar basic nya aku jurnalis, segala jenis pertanyaan aku list dan aku lontarkan tiap x check up ke dokter. Dokter nya jg cukup detil tiap x aku melontarkan pertanyaan sampai puas. Aku pun sampai sekarang puas sama dy. 


Lupa sih ini berapa weeks pregnant.. Kayaknya 13-15 weeks?

Namanya kehamilan, masalah tetap aja datang, seperti susah makan, perut yg membesar, susah tidur dan kekhawatiran ini-itu. Dasar memang janin nya kuat, aku cuma mengalami flek 1x dan setelah itu tidak ada masalah yg serius. Pertumbuhan janin bagus, lengkap sampai terakhir aku iseng coba 4D pun, pertumbuhan bagus dan lengkap sampai usia kehamilan 16 minggu. 


Mommy's little angel

Masalah yang masih saja ada adalah keputihan. Ya, dr awal hamil saat aku di Bali memang sudah parah. Ternyata usik punya usik, keputihan bukanlah sesuatu yg bisa disepelekan krn bisa membahayakan ketuban janin. Jadi aku extra care dg keputihan dan sampai sekarang (usia 19 minggu), aku masih berkutat utk care dg keputihan yg memang seakan tidak ada habisnya. 

Tapi tenang nak, mami akan melakukan apapun utk menjaga kamu di dalam perut. Kita berdua akan sehat dan bisa ketemu nanti sehat walafiat dan lengkap ya. Tuhan memberkati doa mami. 

Pertengahan 17 ke 18 minggu, aku merasakan detak aneh di perut bawah. Aku merasakannya sedikit-sedikit. seperti letupan keluar perut. Aku bingung ini apa, lalu juga saat 16 minggu, aku merasakan perputaran yg aneh 3x saat sedang makan di Hooters sama suami. Aku waktu itu berpikir, "Wah, apa nih? Apa rs yg terdekat?? Apa harus kuperiksakan??" Tapi aku tidak merasa sakit atau apapun, akhirnya aku pun tidak begitu memikirkannya. 

Next check up, aku pun bertanya ke dokter dan dy bilang kalau itu adalah pergerakan janin dan aku cukup cepat juga sudah bisa merasakannya. "Mungkin senang krn jarang sekali bs keluar malam..", pikirku sambil senyum. 

Minggu-minggu 17 ke 18 itu perut ku sudah mulai dipenuhi gerakan-gerakan keluar perut yang halus. Mulai dari halus, lekukan lembut, sampai cukup keras sampai aku pun terkejut. Ya Tuhan, memang tidak ada berkah yg lebih indah drpd merasakan pergerakan di dalam tubuh. Itu adalah salah satu saat-saat aku merasa berkah Tuhan sungguh tidak ada habisnya dan bagaimana aku sekarang tidak lagi sendiri, tapi berdua dan dede sudah konfirmasi itu dengan setiap pergerakan di dalam perut ku yg mulai membuncit. 


17 weeks pregnant

Saat kehamilan umur 18 minggu, aku mengalami pusing sekali dan lemas kemarin ini. Aku pun memang sudah menjadwalkan check up ke dokter krn aku menyadari ada keputihan yg amount nya td normal, takut air ketuban merembes, pikir aku. 

Waktu suami sudah menjemput dan sudah dijalan utk menjemput mamaku, aku pingsan di jalan. Aku bisa mendengar suami berteriak-teriak dan memukul paha ku, tapi aku serasa tidak bisa melek, tidak bisa respon apa-apa. Aku hanya bisa bernapas, dengan kondisi pantat sudah mulai kebas. Aku bisa merasakan tp aku tidak bisa ngapa-ngapain. 

Aku ingat banget suami terus-terusan teriak sampai akhirnya dy tidak jadi jemput mami dan langsung ke IGD di St. Carolus. Aku ingat ada yg menggotongku dan memindahkan ke ranjang, tp aku tidak bisa melihat apapun, aku lemas sekali. Sampai di IGD pun masih lemas dan sama seperti biasanya aku pingsan, aku pun menangis. Seakan-akan ingin memberitahu aku bisa mendengar, ingin merespon tapi tidak bisa. 

Menit-menit yang terasa berjam-jam itupun terasa lamaaa sekali. Akhirnya aku sudah mulai bisa melek dan sudah mulai tenang dan melihat ada mami, cicinya mami dan suamiku disitu. Ah tenangnya melihat mereka. Suster ada omong ke aku, bilang untuk keluarin unek-unek, jangan disembunyiin. Tenang, ada suster disini, ada apa yg mana yg sakit?

Kesannya seperti aku habis mengalami sakit secara batin sampai aku pingsan gt yak? Hahahhaa sampai mamaku jg inget dy bilang begitu dan bingung jg, emangnya aku terlihat spt kdrt? hahahhaa maaf sus, i'm happily married, andai saja suster bs melihat seberapa perhatiannya suamiku, puji Tuhan dy tidak pernah menyakiti aku, pikir aku. 

Salah satu kenangan yang ingin kuingat dr dirawat di IGD adalah adanya cici nya mamiku, mami, suamiku, amah, kungkung, dan papa. Semua ada dan langsung datang ketika mendengar aku drop. Hahaha, mungkin khawatir juga sama dede. Salah satu yg kuingat adalah ketika papa mencium jidatku sambil bilang, "Kenapa say? Aduh anak papa nih yg paling disayang.., yg paling pengertian ya..Kamu kenapa?"
Sumpah, rasanya kayak kembali lagi jd anaknya papa dan itu adalah salah satu perasaan yg kurindukan setelah jd istri orang hampir 2 tahun ini. 


Aku didiagnosa dg keputihan berlebih dan pingsan. Jadilah aku dirawat 2 malam. Waduh, pikirku. Ribet banget ini. Tapi semua demi baby yg sehat, why not? Dokter juga ada bilang kalau air ketubanku sedikit berkurang. Jadi aku disuruh bedrest. 
Bedrest itu benar2 bedrest kalau sama Dr. Christina. Aku disuruh pipis di ranjang dg pispot. Aku cuma tahan 2x, apalagi dg keadaan aku kebelet pipis terus. Dari 2x itu aku tidak bisa keluar semua rasanya. Jadi kuputuskan utk jalan sedikit ke kamar mandi spy lebih lega. 

Untung memang bayiku kuat dan selalu bs menjaga dirinya, selama di bedrest, dy selalu aktif berdetak-detak di perutku dan jg detak jantungnya selalu kuat dan sehat. Aku benar-benar merasa bersyukur bisa mempunyai kehamilan yg sampai saat ini puji Tuhan selalu sehat dan lengkap. 

Pulang dari rumah sakit, aku bedrest di rumah sehari sebelum menjalani aktivitas kerja seperti biasa. Setiap hari aku selalu menunggu-nunggu gerakan dede, apapun itu. Aku pun mulai mendengarkan lagu dan mulai ajak dede ngobrol. Apapun itu, namun sayang dede selalu diem setiap x suami ku menempelkan tangannya utk merasakan gerakan dede. Hmm, mungkin dede takut atau malu ya? 

Salah satu yg kusadari adalah betapa aku menyukai musik Bee Gees akhir-akhir ini. Specially how deep is your love. Kemarin aku menyetel lagu itu dan lagu mozart utk pregnancy & unborn baby. Wow, ternyata dede menyukai lagu-lagu itu, karena gerakannya sangat aktif di siang hari padahal biasanya malam hari baru aktif, senang sekali aku melihatnya. Ketika kusuruh suami utk melihat dan merasakan, lagi-lagi dede diam hahahhaa kayak main petak umpet yaaa
Akhirnya aku tanya sama dede mau dengar lagu ini atau tidak, kita atur 1 jam sehari gimana? Dan kurasakan lagi detak itu di perutku.

Ah, pregnancy itu memang berat perutnya tapi sungguh berkah yang tidak terkira...


Couldn't feel happier

No comments:

Post a Comment